Saat kau kukenal, itu lantaran aku seorang lelaki yang melihat kepada seorang wanita yang cantik. Ya, kuakui kau memang cantik dan manis. Ini dibuktikan dengan banyaknya pria yang mencoba mendapatkan hatimu, ‘begitupun denganku’. Tetapi setelah kuketahi bahwa kau sudah bertunangan, aku kecewa dan hanya bisa berkata dalam hati ‘aku terlambat’. Awalnya aku bertekad jikalau memang kita bisa berteman, maka hanya temanlah bentuk sebuah hubungan yang bakal kita jalin. Dan saat itu aku memasang tameng baja setebal-tebalnya dalam jiwaku bahwa ‘aku tak boleh melewati sebuah batas rasa denganmu’. Aku berusaha menjaga jarak denganmu.

Seiring dengan bertambahnya waktu, dan seringya kita bertemu pandang, serta makin asyiknya kita ber-sms, tanpa sadar kita telah terbuka semakin dekat. Keterbukaan itu menimbulkan benih-benih rasa bahwa kita mempunyai kesamaan dalam urusan hati. Yach, ‘aku lupa’, yang aku tamengi adalah jiwaku, bukan hatiku. Aku mungkin selamat dari menilaimu dalam nafsuku, dan kucoba mengajak akalku untuk ikut memberikan nasihat, tapi hatikulah sang pengambil keputusan. Hatiku tak bisa berdusta, bahwa aku menyukaimu. Sering akalku melarang jika sedang mengingatmu, karena ini adalah perbuatan yang salah. Tetapi jiwaku terlalu menikmatinya, sehingga hatiku pun mulai buta. Mungkin aku tak akan seperti ini jika engkau tidak menanggapiku. Mulanya aku beranggapan mungkin aku terlalu ‘gede rasa’. Tetapi jiwaku terus bergejolak dan menjadikan beban dalam diriku. Akhirnya kuputuskan, aku harus meluapkan isi hatiku, bukan cuma karena aku terlalu terbebani dengan perasaan ini, tetapi aku ingin kau tau. Maka dengan segala konsekuensi buruk yang bakal aku hadapi, aku bertekad untuk mengungkapkannya.

Aku ingat saat itu adalah hari ulang tahunmu yang ke-23. Bersama teman-teman yang lain, akupun turut serta dalam merayakan hari ulang tahunmu. Hari itu menurutku, adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku. Dan akhirnya akupun mengatakannya, sebagai kado ulang tahunmu, bahwa ‘aku suka kau, aku menyayangimu’. Saat itu kamu cuma bilang kalau kau juga menyayangiku, tapi ku tak tau apakah sebagai teman dekat atau sebagai orang yang benar-benar kau rindu. Tapi dengan melihat kebahagiaan terpancar dalam senyum dan matamu, sungguh ku tau kalau kamu memang merasakan perasaan yang sama denganku. Dan malam itu adalah awal dari malam-malam indah berikutnya.

Sampai pada suatu waktu, entah mengapa dari pembicaraan-pembicaraan kita, perasaanku semakin menjadi. Aku tak hanya sekedar sayang , aku tak sekedar cinta, tapi aku mulai takut kehilanganmu. Dan saat kau ungkapkan hal yang sama, saat itulah aku berani yakinkan kalau kau bakal menjadi milikku dan berjanji tak akan meninggalkan dirimu.

Hari demi hari berlalu, semakin bertambah rasa cintaku, dan kulihat kau pun mulai secara perlahan mengumandangkan genderang perang sikap terhadap keluargamu. Sehingga saat bapak dan ibumu yang telah mempunyai seorang pilihan buatmu, melihat perubahan dirimu, melihat sesuatu yang berbeda, mereka menjadi kuatir dan menjadi masalah serius dalam benak hati dan pikiran mereka. Saat kau bercerita tentang sakitnya bapakmu yang disebabkan beban pikiran yang amat berat, aku mulai tersadar bahwa aku, diakui atau tidak, ikut merasa bersalah. Aku mengalami dilema. Aku tidak ingin ada perpisahan di antara kita, tapi aku juga tak ingin kau menjadi seorang anak yang menentang keinginan orang tua. Aku tau kau juga alami dilema yang tentunya lebih berat dariku. Aku terus berpikir, kali ini aku mengedepankan akalku untuk mengambil keputusan. Dan akhirnya dengan berat hati disertai rasa sakit yang teramat sakit, aku memutuskan untuk berhenti mencintaimu sebagai seorang kekasih, memintamu untuk tidak melawan orang tuamu, memintamu untuk mencoba mencintai tunanganmu dengan sepenuh hati, demi kebaikan semua. Aku pernah bilang padamu kalau aku akan mati dan akan hidup kembali. Saat inilah waktunya. Kematianku bukan kematian sesungguhnya, dan itupun bukan karena aku dimatikan oleh sesuatu, karena justru aku yang membunuhnya sendiri. Aku mencoba membunuh rasa sayang dan cintaku padamu. Kucoba mematikan sebuah perasaan antara seorang pria kepada wanita. Kau tau bagaimana rasanya saat aku dalam keadaan sekarat, pedih yang terlampau pedih, sakit tiada tara.

Engkau mesti tau, keputusanku ini bukan tidak dengan menimbang berbagai hal. Aku telah memikirkan segalanya, termasuk perasaanmu. Aku tau setelah keputusanku kau akan menganggap aku seorang pendusta, munafik, penakut dan pecundang. Tapi aku sudah siap dengan sebutan itu, yang terpenting bagiku adalah sebelum semuanya menjadi terlambat. Setelah kau mendengar keputusanku, kurasakan kekecewaan dan rasa tidak terima darimu. Namun, di dalam kesedihan yang terpancar dalam wajahmu, aku justru melihat seakan-akan kau telah mendapat jawaban dari semua masalah yang kau hadapi. Yach, kau juga akhirnya menerimanya, dan berharap semua kembali seperti semula.

Akan tetapi, kemudian terjadi sesuatu yang kelabu, sesuatu yang merontokkan tegarnya jiwa manusia, sesuatu yang menyadarkan manusia dari kelalaian, sesuatu yang membuat kau terguncang sedih, ayahandamu yang tercinta meninggal dunia. Aku tau bagaimana rasanya ditinggal oleh seorang ayah, seorang yang walaupin bagaimana dia kepada kita, adalah orang yang menyebabkan kita ada. Tapi bukan itu yang menyebabkan jiwaku bergejolak luar biasa. Memang perkara mati adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah tentang tempat dan waktunya. Tapi aku berkeyakinan, pasti kau ikut merasa bersalah atas meningggalnya bapak, dan jika itu betul, artinya aku ikut terlibat di dalamnya. Aku merasa seperti seorang yang kejam tidak berperasaan dengan meninggalkanmu di saat kesedihan yang dalam meliputi jiwamu. Yach, dalam waktu yang begitu dekat, kau telah ditinggal oleh dua orang yang mungkin sangat berarti buatmu.

May, aku merasakan hal yang sama. Kau memang tidak melihatnya, tapi aku sempat seperti orang yang mati. Kucoba kontak kamu tapi tak tau kenapa kau susah dihubungi, seakan-akan kau telah sangat membenciku. Tapi perasaan itu sirna setelah kau akhirnya menelponku dan memastikan bahwa kau dalam keadaan yang tenang, kegelisahanku pun menjadi hilang. Kini aku cuma berharap, agar kau bisa mengerti aku. Mungkin sejuta maaf sekalipun tak bisa menetramkan hatimu. Tapi dengan segala hormat dan rendah hati, aku yang hina ini, memohon kepadamu maaf yang sebesar-besarnya atas semua yang telah terjadi, atas semua yang telah aku lakukan. Terima kasih karena pernah menyayangiku, itu sangat berarti dalam sejarah hidupku. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita, menjadikan semua peristiwa yang terjadi menjadi hikmah dan pelajaran buat kita. Aku senantiasa berdoa, agar kau diberi kekuatan iman dan islam, diberi keselamatan lahir dan batin, dan tentunya diberi kedamaian dan kebahagiaan selamanya.