Kecerdikan Abu Nawas Membagi Kambing – Bagian 2(Tamat)
“Kalian tadi berapa bagiannya masing-masing?” tanya Sultan yang lupa bagian mereka masing-masing karena rumitnya permasalahan.
“Saya berhak mendapatkan separonya, Baginda,” jawab Ahmad.
“Sedangkan saya harus memperoleh sepertiganya,” sambung Zulfikar.
“Dan saya harus mendapatkan bagian seperdelapanya,” tutur Zubair.
Baginda Sultan Harun al-Rasyid, nampak berpikir dalam-dalam. Tapi sekian lamanya Sultan berpikir, namun tetap saja menemui jalan buntu. Bahkan para pejabat yang hadir di tempat itu saja hanya geleng-geleng kepala tak sanggup membantu menyelesaikan masalah yang paling rumit tersebut.
Karena mereka yang ada di tempat itu tidak bisa memecahkan persoalan tiga orang desa tersebut, maka suasana pun menjadi hening cukup lama. Mereka semua berpikir tentang jalan yang terbaik. Hingga akhirnya, Sultan teringat akan Abu Nawas yang terkenal bijak dan panjang akal. “Panggil Abu Nawas untuk datang ke sini sekarang juga!” perintah Sultan kepadan salah seorang pengawal.
Setelah beberapa saat lama mereka menunggu, akhirnya Abu Nawas yang mereka nanti-nanti untuk dapat menyelesaikan masalah yang pelik itu datang. “Aku senang, engkau segera memenuhi panggilanku, wahai Abu Nawas,” kata Baginda menyambut kedatangan Abu Nawas.
“Kiranya ada apa Baginda memanggil hamba datang ke istana?” tanya Abu Nawas kemudian.
Sultan pun langsung menceritakan perkara rumit yang dihadapi oleh ketiga orang desa tersebut. “Karena itu, engkau sengaja aku panggil ke sini, sekarang kami ingin meminta bantuanmu, bagaimana membagi kedua puluh tiga ekor kambing itu sesuai dengan tuntutan masing-masing,”kata Sultan menjelaskan. :Sebab kami semua yang ada di sini merasa kebingungan untuk menemukan jalan penyelesaiannya.”
“Waahh…, itu masalah kecil, Baginda. Insya Allah saya akan membantu mencarikan jalan keluar,” jawab Abu Nawas menyatakan sanggup. Kemudian berkatalah Abu Nawas kepada ketiga orang desa itu, “Tolong bawalah kambing-kambing itu masuk semuanya!”
Setelah kedua puluh tiga ekor kambing itu dituntun masuk ke dalam istana, Abu Nawas berkata, “Baiklah, sebelum aku membaginya sesuai dengan bagian kalian masing-masing, aku akan menghitungnya terlebih dahulu. Benarkah semuanya berjumlah dua puluh tiga ekor!?”
“Silahkan!” sahut mereka.
Sesudah kambing-kambing itu dihitung oleh Abu Nawas, semuanya benar berjumlah dua puluh tiga ekor. Sesaat kemudian, Abu Nawas berpikir keras untuk menemukan jalan keluar. Tak lama selanjutnya, ia berkata kepada Baginda Sultan, “Izinkanlah saya meminjam kambing Baginda, seekor saja!”
“Baik!” sahut Sultan mengizinkan. Maka ditambahkanlah seekor kambing milik Sultan pada dua puluh tiga ekor kambing yang berjajar serempak di depan Sultan. Sehingga keseluruhan kambing yang ada di tempat itu menjadi dua puluh empat ekor.
“Nah, sekarang saatnya saya akan membagi kambing-kambing ini sesuai dengan bagian kalian masing-masing!” ujar Abu Nawas berapi-api. “Ahmad yang berhak memperoleh separonya, maka boleh mengambil dua belas ekor!”
“Baik!” sahut Ahmad langsung mengambil pembagiannya.
“Sedangkan engkau, Zulfikar yang memperoleh bagian sepertiganya, maka engkau boleh mengambil delapan ekor!” kata Abu Nawas memerintahkan.
“Terakhir, Zubair, karena engkau hanya memperoleh bagian seperdelapannya, maka engkau berhak mengambil sejumlah tiga ekor kambing,” kata Abu Nawas menjelaskan.
Masing-masing segera memperoleh bagiannya. Ternyata masih tersisa seekor. “Karena saya tadi meminjam satu ekor kambing milik Sultan, maka sekarang yang seekor ini saya kembalikan lagi kepada Beliau. Bukan begitu?” kata Abu Nawas sambil mengerdipkan mata kepada Baginda Sultan.
“Nah, karena perkara ini sudah selesai, maka kalian boleh segera pulang dengan bagiannya masing-masing!” kata Sultan memerintahkan.
“Terima kasih Baginda,” jawab mereka seraya meninggalkan istana dengan membawa kambing-kambingnya.
Perkara yang muskil itu akhirnya dapat ditemukan jalan keluanya berkat bantuan Abu Nawas. Meskipun dalam hal ini ada yang dirugikan (coba anda renungkan, niscaya anda menemukan jawabannya, bahwa yang paling dirugikan adalah Zubair), namun mereka semua senang. Bahkan mereka semua merasa berhutang budi kepada Abu Nawas. Berkat kecerdikannya, akhirnya Abu Nawas memperoleh hadiah emas satu kantong dari Baginda Sultan Al-Rasyid.

Recent Comments