My Apologize…
Sobatku semua…
Lama sekali saya gak up date blog ini. Bukan lebay…tapi memang saya mengalami konflik batin yang amat sangat complex. Untuk itu…mumpung masih dalam suasana Idul Fitri, saya ingin meminta maaf atas salah kata dan komentar yang berlebihan. Khusus buat mbak Ika… Pe-eR nya blom dikerjain… lagi mumet banget nih mbak.
Indah Rephi, Mas Doel, Opreker999 & semuanya…mohon maaf lahir batin. Semoga tidak terputus pertemanan kita. Insya Allah saya akan kembali meramaikan blog traffic…biar tambah erat paseduluran kita.

Aku ingin berubah…
Kau telah menipuku
kau bisikkan kata-kata manis
kau kelabui aku dengan jubahmu
kau nasehati aku dengan madumu
kini aku tertinggal
aku seperti orang yang linglung
berdiri tak mampu melangkah
lelah mencari celah cengkramanmu
bergetar tubuhku menahan kemudi ini
untunglah sobatku kerap memanggil
dengan teriakan cahayanya yang kemilau
saat ini aku bertekad untuk terus berjalan
walaupun harus merangkak
aku hanya berharap mata ini tetap bisa melihat
agar tak lagi kau ganggu
aku berharap Tuanku tak memalingkan wajahNya padaku
agar aku selalu dalam awasNya
dengan dayaku yang lemah ini
aku ingin berubah………
dan kuyakin kubisa!!! aku bisa!!! aku bisa!!!
selanjutnya aku tak peduli lagi
Deraian air mata Syeikh Hasan Bashri
Suatu ketika, saat Syeikh Hasan Bashri sedang duduk-duduk di depan rumahnya, tiba-tiba ada iring-iringan pengantar jenazah melintas menuju tempat pemakaman. Terlihat di belakang pembawa jenazah itu seorang anak wanita beserta rombongan yang lain. Rambut anak wanita itu tergerai dan tak henti-hentinya ia menangis. Segera saja Syeikh Hasan Bashri membuntuti iring-iringan jenazah tersebut dan mendekati anak wanita yang masih menangis tak henti-hentinya.
Setelah dekat, beliau mendengar dengan jelas rintihan si anak. ” Wahai abi (ayahku), belum pernah selama hidupku aku mengalami perasaan sedih seperti yang kualami sekarang ini.”
“Nak, belum pernah juga ayahmu mengalami kejadian yang menyusahkan seperti ini!” sahut Syeikh menyela.
Anak itu hanya menoleh ke arah Syeikh dan tetap menangis sampai pemakaman usai. Esok harinya, setelah menjalankan sholat subuh, Syeikh kembali duduk-duduk santai di depan rumahnya. Namun selang berapa lama kemudian, ia melihat anak itu melintas depan rumahnya. Dia rupanya berjalan menuju tempat pemakaman. Merasa ada gelagat yang kurang baik, segera Syeikh mengikutinya dari kejauhan. Beliau ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dikerjakan anak itu. Saat anak wanita itu memasuki makam, Syeikh mengintip dari tempat tersembunyi.
Tiba-tiba anak itu memeluk nisan dan pipinya ditaruh di atas gundukan makam ayahnya, seraya berkata, “Wahai abi, bagaimana tadi malam engkau menginap. Kemarin lusa aku masih mempersiapkan alas tidur untukmu, lalu siapakah yang menyiapkan alas tidurmu semalam? Kemarin lusa aku masih mempersiapkan lampu untuk menerangimu, lalu siapakah gerangan yang menyiapkan lampu untuk menerangimu tadi malam? Wahai abi, ketika badanmu terasa pegal-pegal, seringkali aku memijat badanmu, lalu siapa lagi sekarang yang akan memijat-mijatmu?”
“Wahai abi, ” rintihnya lebih lanjut, “Ketika engkau merasa haus, dengan segera aku mengambilkan minuman untukmu, namun siapakah yang mengambilkan engkau minum tadi malam? Ketika engkau merasa jemu dan penat tidur terlentang, maka segera aku balikkan engkau agar nyaman, namun siapakah tadi malam yang mau membalik tubuhmu agar nyaman?”
“Dengan perasaan belas kasih, kemarin aku masih memandangi wajahmu, tapi sekarang siapa lagi yang akan memandangi wajahmu seperti itu? Saat engkau memerlukan sesuatu, engkau segera memanggilku, tapi bagaimana dengan malam tadi malam, siapakah yang engkau panggil? Bahkan kemarin lusa, aku masih memasakkan makanan untukmu, tapi masihkan engkau menginginkannya? dan siapa yang akan menyiapkannya untukmu?”
Air mata Syeikh Hasan Bashri tak sanggup lagi dibendungnya saat mendengar rintihan anak wanita itu. Beliau langsung menampakkan diri dari tempat persembunyiannya. “Janganlah engkau mengucapkan kata-kata seperti itu Nak!” hibur Syeikh sambil mengusap rambut wanita kecil itu. “Namun katakanlah, “Wahai abi, kemarin kami masih menghadapkan wajahmu ke arah kiblat ataukah abi telah berpaling darinya? Wahai abi, saat kami menaruhmu di kubur, tubuhmu masih tampak utuh, tapi masihkah sekarang keadaanmu seperti itu, ataukah sudah habis dimakan ulat?”
“Ucapkan pula, Nak! Para ulama telah mengatakan bahwa seseorang yang sudah mati itu pasti akan ditanyai keimanannya. Di antara mereka ada yang bisa menjawab dengan benar tapi ada juga yang tidak bisa menjawabnya sama sekali, lalu apakah abi termasuk di antara mereka yang bisa menjawab?”
“Para ulama juga menjelaskan bahwa sebagian jenazah itu ada yang dijepit oleh liang kuburnya sendiri hingga tulang rusuknya hancur berantakan, ada juga yang dibentangkan luas sekali, lalu bagaimana dengan keadaan kubur abi sekarang?”
“Begitu juga dengan keterangan yang menyebutkan bahwa kubur itu acapkali diganti dengan taman-taman surga. Ada kalanya pula yang diubah menjadi jurang neraka, lalu bagaimana dengan kubur abi sekarang? Demikian pula ada yang menerangkan bahwa sebagian kafan itu kelak akan digantikan dengan kafan surga dan adapula yang diganti dari kafan neraka, lantas diganti dengan apakah kafan abi sekarang?”
“Keterangan lain yang dikatakan ulama adalah bahwa kubur itu acapkali memeluk penghuninya sebagaimana seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Tapi adakalanya pula yang mendapatkan marah dari kuburnya hingga menjepit sampai tulang belulangnya berserakan. Adakah kubur abi sekarang marah ataukah sebaliknya?”
“Demikian juga para ulama menjelaskan, ketika seseorang telah memasuki kuburnya, maka bila dia sebagai orang yang bertakwa, ia akan menyesal karena merasa ketakwaannya tidak seberapa. Begitu juga dengan orang yang durhaka. Mereka akan menyesal karena semasa hidupnya tidak mau berbuat kebajikan. Lantas apakah abi tergolong mereka yang menyesal karena tidak pernah berbuat kebajikan ataukah mereka yang menyesal karena merasa ketakwaannya belumlah seberapa?”
“Wahai abi, cukup lama dari tadi aku berbicara kepadamu! Tapi kenapa engkau tidak menjawab sedikit pun? Ya Allah, janganlah kiranya Engkau menghalangi pertemuanku kelak di akhirat dengannya!”
Usai Syeikh Hasan Bashri mengajari seperti itu, anak kecil tersebut menolehkan kepalanya seraya berkata, ” Kalimat-kalimat yang engkau ajarkan tadi sungguh menyejukkan hatiku. Sehingga hatiku sekarang merasa lebih tentram dan memalingkan aku dari kelalaian.”
Melihat anak wanita itu sudah tenang hatinya, segera saja Syeikh mengantarnya pulang. Demikianlah mudah-mudahan dari kisah ini ada hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita renungkan bersama.
Si Kecil, di manakah engkau sekarang?
Al kisah, pada suatu hari Rasulullah SAW mengadakan majelis ta’lim yang dihadiri oleh para sahabat. Beberapa waktu kemudian, tampak seorang anak kecil menghampiri ayahnya dalam majelis tersebut. Sang ayah lalu mendudukkan di depannya. Namun atas kehendak Allah azza wajalla tiba-tiba anak itu meninggal dunia. Peristiwa inilah yang membuat sang ayah sangat sedih dan tidak mau lagi menghadiri majelis ta’lim yang diadakan oleh Rasulullah.
Mengetahui beberapa kali orang tua itu tidak hadir dalam majelis ta’limnya, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Mengapa belakangan ini aku tidak lagi melihat si Fulan?” Read more…
Iman, Islam dan Ihsan..
Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya Read more…
IKHLAS…
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) . Read more…
Kecerdikan Abu Nawas Membagi Kambing – Bagian 2(Tamat)
“Kalian tadi berapa bagiannya masing-masing?” tanya Sultan yang lupa bagian mereka masing-masing karena rumitnya permasalahan.
“Saya berhak mendapatkan separonya, Baginda,” jawab Ahmad.
“Sedangkan saya harus memperoleh sepertiganya,” sambung Zulfikar.
“Dan saya harus mendapatkan bagian seperdelapanya,” tutur Zubair. Read more…

Recent Comments